Tidak yang Tahu Kapan Maut Menjemput

Tidak yang Tahu Kapan Maut Menjemput


26 Januari 2001, dengan kekuatan 7,6 skala richter, dunia menyaksikan bencana gempa bumi di Gujarat. Dalam hitungan menit, 21.000 orang tewas, 167.000 orang terluka, dan 400.000 rumah hancur.


26 December 2004, dunia sekali lagi tercengang karena gempa bumi, kali ini sebesar 9,1 skala richter. Gempa bumi ini sangat dahsyat sehingga menggeser bumi dari porosnya sebesar 1 cm. Kali ini gempanya terjadi di Indonesia dalam bentuk tsunami, 230.000 orang terbunuh di 14 negara.


8 Oktober 2005, dunia sekali lagi terkejut karena gempa di Kashmir pada hari Sabtu. Bencana ini menyerang dalam bentuk gempa bumi berkekuatan 7,6 skala richter. Dalam hitungan menit, kawasan itu berubah dari tempat yang tenang menjadi lautan mayat-mayat. Total korban jiwa sebanyak 75.000 orang, seluruh kota dan desa hancur karena bencana dahsyat ini.


11 Maret 2011, dan kejadian ini baru terjadi, gempa bumi di Jepang, dunia sekali lagi terkejut karena gempanya membuat gelombang setinggi 38,9 m, menyapu Jepang, menghancurkan 125.000 bangunan. Gempa ini berkekuatan 9,1 skala richter, korban berjumlah 15.093.

Tapi jangan salah paham saudaraku, tujuanku bukanlah untuk memberitahu kalian tentang statistik dan jumlah korban dari bencana-bencana yang telah terjadi, melainkan untuk membuat kita memahami apa yang bisa kita simpulkan dari kejadian yang menyayat hati dan menyedihkan ini?

Mari kita jawab pertanyaan ini dengan pertanyaan yang lain. Apakah 630.000 orang yang terbunuh oleh bencana yang dahsyat ini menyadari bahwa waktu mereka telah habis? Apakah mereka terbangun di pagi hari dengan mengetahui bahwa inilah hari terakhir mereka? Jawabannya adalah tidak. Karena kematian adalah fenomena yang tak terduga dan tak bisa diprediksi. Setiap momen bisa menjadi momen terakhir kita.


Misalnya Miklos Feher sang pesepakbola di La Liga, Spanyol. Umurnya baru 24 tahun. Dia bermain sebagai pemain pengganti untuk Benfica, dia membuat assist untuk satu-satunya goal dalam pertandingan hari itu. Ini adalah pertandingan sepakbola yang disiarkan langsung di televisi. Pertandingan sudah di masa injury time, dia mentackle lawan dan menerima kartu kuning. Seiring kartu kuning ditunjukkan padanya, dia tersenyum pada wasit, kemudian berbalik untuk melanjutkan permainan. Tiba-tiba dia membungkuk dan jatuh telentang. Dia meninggal di lapangan sepakbola. Pemain lainnya melihat dengan perasaan tertekan, sebagian dari mereka mulai menangis, tapi tangisan itu tidak berguna lagi.

Tidak ada kekuatan apapun yang bisa menunda kematian, apalagi mencegah kematian. Kenapa? Karena Allah S.W.T. berfirman di dalam Al-Qur’an bahwa perkara kematian tidak ditunda oleh Allah Ta’ala.

Sekarang kita telah paham fakta bahwa kematian dapat menjemput kita kapanpun dan dimanapun, pertanyaan berikutnya saudaraku, apakah kita siap untuk mati? Apakah kita sudah berinvestasi untuk akhirat? Kesimpulannya, apakah kita hidup untuk dunia atau untuk akhirat?


Mari kita ambil contoh tentang seseorang yang hidup untuk dunia ini. Aku ingin menceritakan tentang Alexander Agung. Dia dianggap sebagai jendral terbaik sepanjang masa. Di umur 30 tahun, kekaisarannya adalah salah satu yang terbesar di bumi. Dia telah menguasai 90% dari dunia yang dikenal pada masa itu.


Tapi ketika Alexander sedang sakaratul maut dan dikelilingi para prajuritnya, dia berkata “Wahai pasukan, ketika kau menempatkan tubuhku dalam peti, maka biarkan lenganku bergantung di pinggirnya dengan telapak tanganku terbuka lebar.”


Orang-orang di sekelilingnya bertanya apa tujuannya. Dia menjawab “Jadi dunia dapat melihat bahwa akulah orang yang menaklukkan seluruh dunia, tapi hari ini aku meninggalkan dunia tak membawa apa-apa.”


Inilah akhir dari seorang penguasa yang mempunyai segalanya. Kita harus sadar saudaraku, kita bisa saja mempunyai rumah paling mewah, pakaian paling mahal, bisnis paling menguntungkan, mobil paling bagus, jabatan paling dihormati, pekerjaan bergaji paling besar, gelar paling mengagumkan, istri paling cantik, tapi ketika kematian datang, semuanya akan ditinggalkan, dan hanya amal baik yang menemani kita.


Rasulullah S.A.W. dalam hadist Sahih Bukhari yang diriwayatkan Anas R.A. bersabda "Ketika seorang manusia meninggalkan dunia ini, hanya amal baik yang bersamanya." Para sahabat R.A sepenuhnya memahami sabda Rasulullah ini, karena itulah mereka tidak hidup untuk dunia ini.